Berita Polri vs KPK – Polisi membubarkan paksa aksi unjuk rasa yang dilakukan puluhan mahasiswa pendukung KPK di depan kantor KPK, Jalan HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta, Sabtu (6/10/2012) pukul 04.00 WIB.

Aksi itu dilakukan demonstran menyusul adanya upaya kepolisian menangkap penyidik KPK, Kompol Novel Baswedan, atas tuduhan kasus tuduhan pembunuhan tahanan sewaktu bertugas di Polda Bengkulu pada 2004.

Pembubaran paksa dilakukan polisi, karena massa memblokir jalur lambat dan cepat di depan kantor KPK, Jalan HR Rasuna Said. Massa juga melakukan aksi pembakaran ban di tengah jalan sehingga jalan tersebut tidak bisa dilalui kendaraan.

POLRI vs KPK

POLRI vs KPK

Dalam aksi pembubaran paksa itu, polisi dan massa sempat saling pukul dan membuat situasi ricuh beberapa menit.Setelah para demontrans dibubarkan, arus lalulintas di jalur lambat dan cepat Jalan HR Rasuna Said, sudah kembali normal.

Alasan Polri Tangkap Novel Mendadak

Polri memiliki alasan kuat kenapa melakukan penangkapan terhadap Kompol Novel yang diperbantukan sebagai penyidik di Komisi Pemberantasan Korupsi mendadak. Di lembaga antikorupsi ini, Novel sudah bertugas selama lima tahun.

Dirkrimum Polda Bengkulu Kombes Dedy Iryanto di Mabes Polri, Sabtu (6/10/2012) dinihari, menyampaikan, penangkapan Novel setelah adanya laporan dari korban penembakan yang juga tersangka pencurian sarang burung walet.

“Ada laporan yang masuk dan kewajiban kami sebagai Polri harus menyidik. Kami tidak ada tendensi apapun. Laporan sudah satu bulan lebih kepada kami,” ujar Dedy yang didampingi Kadiv Humas Polri Brigjen Polisi Suhardi Alius di Humas Mabes.

Menurut Dedy, dari lima korban penembakan, ada tiga yang melapor. Mereka mengaku timah panas dari pistol Novel masih tertanam di kaki mereka dan belum diangkat. Salah satu korban geram lantaran karena timah panas itu, kakinya harus diamputasi.

Aksi penembakan yang dilakukan Novel kala berpangkat Iptu dibenarkan banyak korban. Memang, dari kelimanya sudah menjalani hukuman dan berstatus narapidana. Tapi korban, keluarga, masyarakat dan LSM tak menerima karenanya membuat laporan.

Bahkan, sambung Dedy, kesaksian atas tindakan Novel dibenarkan tiga perwira yang saat itu ikut menyaksikan keenam tersangka ditembak. “Sekarang, senjata ada pada kami. Tersangka Novel sedang kami kembangkan,” tambahnya.

Novel menegaskan dirinya tidak terlibat dalam kasus tersebut. “Saya tidak berada di lokasi kejadian,” ujarnya.

Direktur Reserse dan Kriminal Umum Polda Bengkulu Komisaris Besar Dedy Irianto menuding Novel menembak tersangka yang terlibat kasus pencurian. Dedy juga membantah penangkapan Novel sebagai bentuk kriminalisasi KPK. “Tidak ada tendensi, murni kriminal,” katanya dalam jumpa pers di Mabes Polri, Sabtu dinihari.

Kepolisian berusaha menciduk Novel dengan menggeruduk gedung KPK, tempat Novel bekerja. Usaha ini digagalkan Ketua KPK Abraham Samad bersama pimpinan KPK lain, seperti Bambang Widjojanto. Bahkan kalangan pegiat antikorupsi dan aktivis mahasiswa ikut membentengi gedung KPK dari penggerebekan polisi.

POLRI vs KPK

POLRI vs KPK

Bambang mengatakan, upaya pencidukan Novel telah direncanakan beberapa hari. Bahkan, selain di gedung KPK, rumah Novel di kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara, juga dikepung sejumlah anggota polisi. “Ini bentuk kriminalisasi KPK,” kata Bambang.

Keluarga Korban Tidak Mendesak Polisi Ungkit Kasus 2004

Keluarga Mulyan Johani, korban penembakan oleh Kompol Novel Baswedan di Kota Bengkulu delapan tahun silam (2004), mengaku tidak mendesak kepolisian untuk kembali membuka kasus penembakan saat ini.

Hal tersebut disampaikan kakak sulung korban penembakan Antony Besmar (41), Sabtu (6/10/2012). Antony menyatakan, sepengetahuannya dalam beberapa waktu terakhir ini keluarga tidak ada yang mendesak kepolisian untuk mengungkit kasus penembakan adiknya Mulyan Johani atau Aan delapan tahun silam.

“Buat apa repot-repot. Keluarga sudah ikhlas. Kalau saya tidak (mendesak polisi menuntaskan kematian adiknya). Siapa tahu Panca (adik bungsu) atau sanak keluarga yang lain,” ujar Antony.

Menurut Antony, tahun 2004 Aan yang merupakan anak ketiga dari lima bersaudara memang ditangkap polisi atas tuduhan mencuri sarang burung walet. Belakangan diketahui Aan meninggal dunia. Antony menilai, kematian adiknya janggal.

Perseteruan Polri vs KPK Sudah Level Akut

Politisi Partai Amanat Nasional (PAN) Bima Arya Sugiarto menganggap perseteruan KPK dengan Polri telah mencapai puncaknya, ketika sejumlah Provost Polda Bengkulu menjemput paksa Novel Baswedan, penyidik KPK ke gedung KPK semalam.

“Polri-KPK perseteruannya sudah level akut,” ujar Bima Arya usai Polemik di Warung Daun Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (6/10/2012).

Bima Arya juga khawatir, perseteruan kedua lembaga penegak hukum ini dimanfaatkan oleh sejumlah oknum yang memiliki kepentingan terselubung, yang pada akhirnya mengendalikan salah satu lembaga ini.

“Jangan sampai oknum-oknum kotor ini mengendalikan institusi, dalam keadaan seperti ini presiden harus berreaksi,” ucap Bima Arya.

Densus Polri Juga Ikut Geledah Rumah Novel

Anggota Densus 88 Mabes Polri dikabarkan juga ikut melakukan penggeledahan dan pemantauan di kediaman Kompol Novel, penyidik di KPK.

“Ternyata di bagian lain dari lokasi KPK, di sekitar rumah saudara Novel ada anggota Polri dari Densus,” kata Wakil Ketua KPK, Bambang Widjojanto saat konferensi pers di gedung KPK, Jakarta, Sabtu(6/10/2012) dini hari.
Tidak hanya di rumah Novel, menurut Bambang anggota Densus juga melakukan penggeledahan dan pemantauan di rumah penyidik KPK yang lainnya.

“Dan ini tidak terjadi hanya pada saudara Novel tapi juga beberapa penyidik lainnya,” ujar Bambang.
Pada saat ini lanjut Bambang KPK tetap melindungi Kompol Novel dans eluruh penyidik dan elemen yang bekerja untuk KPK.

Sebab berdasarkan pandangan Bambang, Novel yang dituduh melakukan penganiayaan sesungguhnya tidak pernah ada di lokasi kejadian.

“Sehingga tidak bisa disalahkan,” katanya.

Suasana di gedung KPK hinggga pukul 03.45 tadi masih tampak ramai. Elemen mahasiswa, aktivis, dan penggiat antikorupsi secara bergantian melakukan orasi di depan gedung KPK.

Mereka bahkan menggelar orasi di jalan raya depan KPK, sehingga satu badan jalan di Jl Rasuna Said ditutup untuk lalu lintas kendaraan.

“Dengan apa yang terjadi malam ini justru menguatkan lembaga KPK, seluruh elemen masyaraat berada di belakang KPK,” ujar mahasiswa di atas mimbar yg mereka siapkan di depan gedung KPK.

Sejumlah aktivis Usman Hamid, Febry Diansyah, Tama S Langkun, Effendi Gazali, dan Fajrul Rahman tampak hadir saat KPK menggelar konferensi pers.

Mereka datang untuk membrikan dukungan Kepada KPK. Juga hadir Saldi Isra, Anis Baswedan, Yunus Husein, dan anggota Komisi III DPR.

“Saya merasa ini kesempatan bagi raktat untuk menunjukan sikapnya sebagai rakyat yang cerdas mendukung KPK dalam memberrantas korupsi. Kami meminta para pimpinan KPK tidak mundur dalam memberantas korupsi.” ungkap Anis Baswedan.